Kisah Sukses Perjalanan Bisnis Dewi Motik (bagian 2)

Terusan : Anda bisa membaca artikel sebelumnya disini >> Kisah Sukses Bisnis Dewi Motik (bagian 1)

kisah-sukses-bisnis-dewi-motik-dan-putri-ayu-indonesia Kisah Sukses Perjalanan Bisnis Dewi Motik (bagian 2)Tahun 1974 ia kembali ke Tanah Air. Ia membantu ayahnya, meneruskan usaha ekspor-impor. Dewi Motik untuk pertama kali menjadi pedagang semen. Saat itu belum ada pabrik semen di Indonesia. Ia juga menjadi agen mobil Merk Datsun dan agen sepeda. Tahun 1974-1975, Dewi Motik menjadi agen semen. Untuk mengambil semennya, ia mondar mandir menjumpai Pak Onggok dari PT Ratu Salju ke Pluit. Dengan pakaian blue jeans dan mengendarai mobil pick up, Dewi Motik masuk ke daerah penjualan semen yang asal Korea itu.

Rata-rata yang kesana adalah keturunan Cina. Dewi Motik dianggap Cina. Ia juga memang pura-pura jadi orang Cina. Karena ia pada bulan Ramadhan melakukan ibadah puasa, maka ia dipanggil Mualaf Cina yang masuk Islam. Saat itu ia agak sedih mendengar istilah itu.

Dalam kegiatannya sebagai pedagang itu, Dewi Motik masih menyempatkan dirinya ikut kegiatan persatuan Wanita Indonesia. Juga ikut kadin. Ayahnya kemudian meninggalkan bisnis ekspor-impor, berpindah ke bisnis sewa menyewa rumah. Sehingga Dewi Motik mesti lebih konsentrasi pada bidang eksport-impor itu.

Rupanya kegiatan di atas belum cukup buat Dewi Motik, ia juga menyisihkan waktunya untuk mengajar di lembaga pendidikan milik Ikaran Sarjana Wanita Indonesia. Belakangan, di beberapa tempat lain ia juga mengajar.

“Sayang kalau ilmu ini tidak dibagi-bagi buat orang lain,” ujarnya.

Dampak dari pikiran dan sikapnya itu. Dewi Motik diminta sebagai pembicara dibanyak forum. Ratusan kali ia menjadi pembicara di berbagai seminar. Ia biasanya mengulas masalah kewiraswastaan, kemandirian, etika berbusana, dll. Bahkan pernah sekali ia diminta oleh Kedutaan Belanda untuk menghadiri seminar di Curasao, Amerika latin, bekas jajahan Belanda.

Mereka berangkat kesana selama 36 jam perjalanan. Capek sekali. Tiba di Curasao pukul lima pagi waktu setempat. Sehubungan dengan penampilan Dewi Motik di berbagai forum sebagai speaker, mengharuskan ia memakai pakaian dengan model-model menarik dan maju. Akibatnya ia jadi panutan.

Sebelum itu, pada tahun 1974, Dewi Motik pernah dinobatkan sebagai Top Model of The Year oleh sebuah Yayasan pengembangan mode. Tahun 1976, Dewi Motik bersama kakaknya Kemala Motik, melakukan sebuah terobosan yang sangat penting bagi kaumnya. Mereka mendirikan wadah bagi pengusaha wanita. Mereka sebut Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI).

Melalui lembaga ini, mereka ingin menjalin kerjasama antara sesama pengusaha wanita Indonesia. Di samping itu, mereka juga mencoba meningkatkan ketrampilan mereka sebagai pengusaha, sambil mengajak lebih banyak lagi wanita lainnya untuk bekerja dan mencari nafkah serta berusaha memperluas kesempatan kerja bagi orang lain.

Kesibukannya sebagai pengusaha, keaktifannya sebagai pengajar, dan tugasnya sebagai pimpinan organisasi, mengharuskan Dewi Motik selalu berusaha mempersiapkan sesuatu sebelum acara atau peristiwa terjadi. Mulailah ia terbiasa membuat skedul kerja, membuat rencana kerja, membuat tulisan makalah dan penjelasan tertulis.

Kebiasaan baru ini, mengantar beliau untuk menjadi seorang penulis. Maka dari tangannya, keluarlah sebuah karya tulis. Yang pertama; Cintaku Tuhanku (kumpulan sajak). Kedua, Yang sopan yang santun. Etika berbusana dan pergaulan pada umumnya, adalah bukunya yang ketiga.

Ia mengaku bahwa rampungya tulisan itu, sangat dibantu oleh dua rekan wartawati, Titi Juliasih dari Mutiara dan Mary Zein dari Kompas. Baginya, wartawan sangat bermakna. Ia adalah ibarat ajinomoto dalam makanan kita. Tanpa wartawan dengan karya-karya tulis mereka rasanya kehidupan belum pas. Atas komentarnya, ia mendapat kiriman 1 karung ajinomoto.

Dewi Motik masih mampu menyisihkan waktunya untuk menulis di banyak media, di Pelita, Surabaya Post, Famili, Femina dan beberapa media lainnya. Aktivitasnya sebagai pengusaha, sebagai guru dan penceramah, aktifis organisasi, penulis buku dan kolumnis beberapa media, menyebabkan Dewi Motik dikenal secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat.

Beberapa tahun kemudian, sebuah lembaga menobatkannya sebagai Wania Karir Ideal tahun 1977. Empat tahun sesudah itu, ia dinobatkan sebagai wanita popular. Kesenangannya memakai busana yang baik dan sopan setiap hari, mendorong dia menulis etika berbusana di atas, dan karena kegiatan itu pula ia terpilih sebagai wanita berbusana terbaik tahun 1983.

Enam tahun sesudah itu. Dewi Motik terpilih sebagai wanita executive berbusana terbaik. Dewi Motik amat menjaga tata kesopanan, ia tahan kerja keras dari pagi hari sampai tengah malam. Kalau sudah capek, ia juga bisa tidur dimana saja, sepanjang tidak mengganggu situasi. Ia mengaku bisa tidur pulas bila sedang dalam penerbangan dari Amsterdam-Singapura.

Kini, ia bersama suaminya tercinta sangat bahagia dengan dua putera puteri mereka.  Suaminya, Pramono Soekasno, dikenalnya sejak mereka masih SMA, lewat acara Pesta Dansa Barata. Pria kekar turunan Solo itu bekerja di Pertamina. Mereka pacaran selama 9 tahun dan akhirnya kawin 9 Mei 1975.

Tahun 1977, Dewi Motik menjadi Ketua Iwapi Jaya. Kiatnya memimpin wanita pengusaha di DKI adalah dengan pendekatan kebawah. Kalau ada pengurus dan anggota yang sakit. Dewi Motik mengajak yang lain untuk membesuk. Demikian juga kalau ada acara pribadi pengurus dan anggota, yang lain mesti datang.

Pendekatan selanjutnya adalah melakukan rapat di rumah atau di tempat usaha pengurus atau anggota. Hal ini penting, yang di datangi mendapat kehormatan karena orang datang ke rumahnya atau ke tempat usahanya. Pengurus langsung mendapat laporan tentang perkembangan dan kelemahan usaha anggotanya. Keuntungan lain: biaya pertemuan tidak masuk beban organisasi.

Pada umurnya yang ke 33, tahun 1982. Dewi Motik terpilih sebagai Ketua Umum IWAPI. Dalam memimpin organisasi, ia tidak suka marah, tapi sangat sedih kalau generasi muda itu tidak mau belajar dan sukanya santai saja. Banyak generasi muda di mata Dewi Motik agak kurang memberi perhatian untuk merancang masa depan mereka.

Sebagai contoh, ia sedih pada generasi muda yang bekerja sebagai pemborong gedung IWAPI berlantai 4 itu. Gedung bernilai 750 juta itu tidak dikerjakan dengan baik. Tehelnya nggak lurus, plafonnya juga banyak yang bengkok. Sudut-sudut betonnya terlihat kurang rapi, catnya tidak merata.

“Padahal gedung ini merupakan pusat kegiatan IWAPI, pusat pendidikan dan latihan IWAPI, juga tempat beroperasi koperasi IWAPI. Kalau mereka tidak sukses mengerjakan gedung ini, bagaimana orang lain bisa mempercayakan mereka membangun gedung baru lagi,” tambah Dewi Motik agak emosi.

Setelah tamat dari IKIP tahun 1985, Dewi Motik langsung ambil S2 tahun 1988 ia terpilih sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Pusat. Dia satu-satunya wanita disitu. Ia tidak merasa risih, karena baginya pria atau wanita sama saja. Nilai ini juga berlaku dalam keluarga mereka, posisi laki-laki sama dengan wanita. Tokoh wanita yang jadi idolanya tidak ada. Yang ia kagumi hanya Nabi Muhammad. Kalau pun ada tokoh Kartini, kehebatannya sebetulnya hanya pada penalarannya, ujar Dewi Motik.

Menurutnya, Kartini mempunyai kelebihan untuk memprediksi apa yang akan terjadi jauh ke depan, seperti Alvin Tofler si peramal dari Amerika Serikat itu. Peristiwa penting dalam sejarah kewiraswastaan Dewi Motik, terjadi tatkala Rombongan Delegasi Perdagangan Indonesia berangkat ke Eropa. Dalam rombongan yang dipimpin oleh Menteri Prof. Dr. Soemarlin, Dewi Motik ikut melihat pabrik garment di kota Manchester, Inggris. Ia melihat bahan  pabrik garmen seperti itu bisa juga dibuat di Indonesia.

Sekembalinya dari sana ia langsung membangun pabrik garment di tanah mereka yang kosong di Pulo Gadung (1981), PT Arrish Rulan. Perusahaan yang memproduksi jeans dan jacket ini berdiri di atas tanah seluas 5.000 m2, mempekerjakan karyawan 700 orang.

Tujuh tahun kemudian ia juga bersama keluarganya yang lain membangun pabrik garment yang kedua di Tanjung Priok (PT Fauzi Dewi Motik). PT ini memiliki karyawan 300 orang. Bangunannya adalah gudang yang tidak dimanfaatkan sebelumnya. Luas tanahnya 5000 m2.  Atas kegiatan usahanya itu, dibarengi dengan keaktifannya sebagai pembicara di berbagai forum, dan tulisan-tulisannya. Presiden RI Jenderal (purn) Soeharto, atas nama pemerintah menyerahkan penghargaan kepada Dewi Motik sebagai “Orang Muda Yang Berkarya”. Tepat pada Upacara puncak HUT Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1988 di Balai Sidang Jakarta.

Makin banyak usahanya, makin intensif kegiatannya, ia juga mendapat untung yang semakin banyak, tapi ia merasa ada yang belum beres. Ia berpikir kurang bagus kalau hanya menerima saja, sebaiknya memberi juga diintensifkan.

Lalu, pada HUT yang ke 40 tahun 1989, Dewi Motik mendirikan De Mono. Sebuah lembaga pendidikan ketrampilan dan kewiraswastaan yang komplit. Bersama Arleen Djohan wirawan, SH menyiapkan semua keperluan sekolah itu. Tepat hari ulang tahunnya, 10 mei 1989, Gedung De Mono yang berlantai IV itu diresmikan oleh Menteri Perdagangan RI, DR Arifin Siregar. Saat itu banyak pengusaha terkenal hadir, seperti Bob Sadiro, dll. Artis juga banyak yang hadir, acaranya sendiri dipandu KoesHendratmo. Tentu saja, sebagian besar pengurus IWAPI datang.

Mata pelajaran pada lembaga pendidikan ini antara lain: kerja praktek dalam merintis pembukaan usaha di bidang perdagangan dan ekonomi, kepemimpinan, kewiraswastaan, pemasaran, perpajakan, perbankan, psikologi, dll. Mata pelajaran itu, diteruskan acara tatap muka dengan pengusaha nasional terkemuka dan pimpinan bank-bank pemerintah dan swasta.

Nama De Mono adalah singkatan dari namanya dan nama suaminya. De-wi Motik dan Pra-mono. Dan istilah De Mono ini adalah nama Dewi Motik dalam surat cintanya setiap kali mengirim kepada mantan pacarnya Pramono puluhan tahun yang lalu. Ide pendirian De Mono pada awalnya timbul karena sebelumnya Dewi Motik sering mendapat surat cinta. Banyak sarjana yang minta pekerjaan padanya. Bahkan banyak orang tua yang suka nitip anaknya dicarikan pekerjaan. Awalnya senang bisa bantu cari kerja.

“Namun lama-lama nggak enak lagi, kewalahan,” ungkapnya kesal.

Dewi Motik pernah memberi ceramah di tengah-tengah 200 sarjana pengangguran.

“Saat itu saya tergerak untuk mencari pekerjaan buat mereka, tapi pekerjaan apa, dan mereka bisa apa?” gumam Dewi Motik dalam hati.

Di Iwapi punya pengalaman mendidik ibu-ibu untuk menjadi pengusaha kecil.

“Kalau ibu-ibu RT saja bisa, masa sih sarjana tak bisa?” bisik Dewi Motik memperkuat sikapnya mendirikan sekolah kewiraswastaan.

De Mono kini telah melepaskan hampir 1000 orang alumninya. Sebagian besar telah berhasil pula membuka usahanya. Mereka sering mengundang Dewi Motik untuk meresmikan pembukaan usaha mereka itu.

“Adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya ketika saya sedang meresmikan usaha rintisan alumni De mono,” ungkap Dewi Motik penuh kebanggaan.

Kunci untuk bisa sukses sebagai seorang wiraswasta menurut Dewi Motik, harus mampu merubah mental lebih dulu. Sesudah itu, berani mengambil risiko. Lalu, risiko itu diperkecil. Untuk itu, secara terus menerus harus mencari peluang, dan Action

“Bila pipi kiri benjol, kasih pipi kanan. Kalau sudah lihat tembok jangan benturkan kepala. Kalau juga mau, itu namanya goblok,” ujar Dewi Motik.

Memulai sesuatu dengan positivie thinking dan mempunyai keyakinan sukses adalah nilai-nilai yang selalu diajarkan Dewi Motik kepada anak didiknya. Akhir September 1991 yang lalu, Dewi Motik diminta oleh Panitia Peringatan HUT HP PLSM yang ke XIV untuk berbicara di depan para pimpinan PLSM di Gedung YTKI.

Menurut Dewi Motik, inti kewiraswastaan ada dua.

  • Pertama, harus mempunyai jati diri, yakin akan kemampuan sendiri, tahu ke arah mana mau dituju, tidak malas, tidak cepat marah, dan kerja keras.
  • Kedua, inovasi/kreatif, harus berani memulai, mampu menghasilkan yang baru.

Kalau sudah memiliki kedua inti kewiraswastaan itu, kata Dewi Motik dalam ceramahnya yang dimoderatori oleh Ketua Umum HP PLSM itu, maka turutilah pedoman di bawah ini.

Buatlah program yang sederhana, praktis dan jelas. Persiapkan semua strategi dan kiat-kiat. Action secepatnya. Jangan lupa kerjasama dengan orang lain. Sekali-sekali jadi anak buah, mau mendengar orang lain. Learning by doing. Antisipasi semua gejala perubahan, jangan statis. Disiplin diri, konsisten. Untuk memecahkan masalah, berfikirlah secara bergantian dari mikro ke makro atau sebaliknya.

Dalam perjalanan hidupnya. Dewi Motik selalu merasakan kesenangan dan kesedihan silih berganti.

“Itulah kehidupan,” katanya.

Ia mengaku banyak sekali problem yang ia jumpai sehari-hari. Ia selalu mengambil sikap tenang. Lalu berfikir mencari pemecahan yang paling baik. Tapi sehebat-hebatnya risiko yang ia hadapi ia tak pernah gentar, ia hanya takut sama Tuhan. Ketika ia masih SD, secara terpaksa ia harus membawa jenazah yang berdarah-darah. Karena familinya itu mati dalam kecelakaan perjalanan semobil dengannya. Ia hadapi situasi itu, dan ia sendiri lolos dari musibah itu. Pengalaman yang cukup mencekam itu sangat membekas dalam ingatannya. Dalam situasi apa saja dan dimana saja, sesuatu yang fatal bisa terjadi pada diri kita, katanya.

“Yang iri, yang benci, yang marah dan yang ingin mencelakakan kita kemungkinan ada, tapi kalau kita sudah menyerahkan diri kepada Tuhan, mengapa kita mesti takut?” tanya Dewi Motik.

Toh kehidupan kita, kemampuan kita ini, adalah pinjaman dari Tuhan, ungkap Dewi Motik agar berkhotbah.

“Kalau ada masalah, segera lapor Tuhan dan cepat mengambil keputusan, itulah kebiasaan yang baik,” ujarnya.

Dua tahun lalu, kuota ekspor garment dilarang masuk AS, ia menderita kerugian. Lalu bersama pengusaha garment lainnya mereka bekerjasama dengan pemerintah mencari pemecahannya. Sekarang sudah tak ada masalah kuota lagi.

“Untuk meraih sukses, kita harus kreatif, lalu menyusun konsep sederhana dan praktis, terus action,” ujar Dewi Motik mengungkapkan kitanya mencapai keberhasilan.

“Jangan bikin ruwet, capek, jangan lama-lama, peluang bisa hilang,” pesannya kepada orang yang menanyakan apa yang dibutuhkan untuk memulai berusaha.

Peristiwa yang baru menghadangnya, adalah terbitnya post card dengan kata-kata yang sangat merugikan dirinya. Fotonya ditaruh di post card itu, dituduh sebagai anti kenaikan upah buruh oleh seorang Amerika.

Menghadapi ini, Dewi Motik mengambil sikap tenang. Sebab, ia sendiri tidak paham apa maksud orang Amerika itu. Apakah ini persoalan politik global atau persoalan pribadi, tak jelas. Sampai sekarang, Dewi Motik belum bisa mengetahui apa tujuan pembuatan post card itu, dan siapa yang merekayasanya. Banyak pihak yang menganjurkannya ke pengadilan. Namun, Dewi Motik masih mengambil sikap tenang.

“Ini bukan peluang bisnis, jadi tidak perlu actionnya cepat,” ujarnya memberi keterangan.

Akhirnya ia membawa persoalan itu ke pengadilan setelah dipikirkan secara matang. Banyak pejabat mau berdiri di belakangnya namun, karena si Amerikanya minta maaf, Dewi Motik merencanakan pembatalan tuntutan itu.

“Orang yang minta maaf perlu dimaafkan,” kata Dewi Motik sambil mengutip ucapan seorang nabi.

Satu-satunya yang paling membahagiaan dalam hidup Dewi Motik adalah melahirkan anak.

“Itulah puncak kebahagiaan yang pernah saya rasakan,” ujarnya.

Dewi Motik adalah pribadi yang suka pragmatis, senang yang praktis. Dalam kaitannya sebagai praktisi ia berkeinginan mempelajari konsep-konsep yang praktis.

Perang gerilya misalnya sebuah konsep keilmuan di bidang militer yang sangat praktis, tidak terlalu teoritis. Sering melakukan Hit and Run. Teman-temannya kuliah, berpangkat Letkol dan Kolonel dari angkatan bersenjata. Tak usah heran kalau kini Dewi Motik bergelut dengan buku-buku Mao Tse Tung, Buku Pak Nasution tentang Perang Gerilya. Prinsip Dewi Motik, kalau melihat orang lain punya kelebihan jangan iri.

“Kita harus belajar untuk bisa mendapatkan; seperti yang mereka dapatkan. Sistem pendidikan di departemen Hankam misalnya, memberi hasil yang baik. Mayoritas pimpinan terbaik bangsa ini lahir dari pendidikan militer. Kita jangan iri. Kita buat yang sama, kita kerja keras dan tingkatkan disiplin,” ujarnya.

Pernyataan Dewi Motik memang ada benarnya. Kalau diperhatikan, sistem rekruitmen kepemimpinan nasional, memang banyak muncul dari kalangan militer. Kelebihan mereka antara lain, tidak neko-neko, mampu berpikir sistematis, punya visi, daya tahan fisik cukup kuat, dan memiliki sense of joke (rasa humor).

Hari-hari Dewi Motik yang penuh dengan kesibukan itu, selalu diawali dengan baca koran di pagi hari.

“Saya gelisah kalau tak baca koran di pagi hari,” ujarnya.

Hobby lain: nonton TV dan berenang. Kalau musim libur, Dewi Motik sekeluarga sering berlibur ke luar negeri. Bila ada rapat atau konferensi di Bali misalnya, Dewi Motik juga sering mengajak keluarga ke sana, sekalian liburan. Dewi Motik mengaku suaminya cukup pengertian. Baginya, sesibuk-sibuk istri, bila selalu menghargai suami dan memberi pengertian, tidak akan ada masalah.

Kendati demikian, tokoh wanita yang paling sering muncul di media massa itu, mengungkapkan: tidak ada suami istri yang cocok 100%. Antara segala macam kegiatan dengan masalah keluarga, sering bertolak belakang. Kadangkala, setiap orang diharuskan untuk menentukan pilihan. Bila kenyataan yang sama ditemui Dewi Motik dalam kehidupannya sehari-hari, ia melakukan dengan skala prioritas.

Sebagai contoh, ketika ada pertemuan penting di kantornya, padahal, pada saat yang sama ibunya dikabarkan sakit, dan akan dioperasi, aktivis Muhammadiyah ini harus memilih meninggalkan pertemuan penting menyangkut kariernya itu. Sebab, posisi orang tua baginya adalah segala-galanya. Sedangkan pertemuan tadi masih bisa terulang, atau resikonya tidak separah kalau ia tidak membesuk ibunya.

Sebaliknya, ketika anaknya sakit, padahal ia harus memimpin delegasi Indonesia yang menghadiri pertemuan pengusaha wanita di India, Dewi Motik memilih Berangkat ke pertemuan yang dibuka oleh Perdana Menteri India, Almarhum Indira Gandhi itu. Bukan karena tega atau tidak sayang anak, tapi hal ini didiskusikan dulu dengan suaminya, setelah setuju ia lalu pergi menunaikan tugas negara dalam memperluas cakrawala pengusaha wanita Indonesia itu.

Alasan Dewi Motik kenapa menekuni dunia pendidikan – mengajar, berceramah, menulis – dan dunia wiraswasta, karena Bangsa Indonesia sangat tertinggal bila dibanding dengan negara maju, dalam berbagai bidang,

“Persaingan semakin ketat, dunia pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesatnya. Kita harus berlari semakin cepat,” ujarnya.

Caranya menurut Dewi Motik: pendidikan ditingkatkan dan harus dibuat gratis, agar strata pendidikan masyarakat kita relatif merata. Akhirnya mereka bisa mencari nafkah sendiri tanpa harus menyandang gelar pengangguran lebih dulu, tambahnya. Untuk mengatasi pengangguran, katanya, sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dunia wiraswasta harus digiatkan terus menerus.

Rakyat mesti dianjurkan menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain, tambah Dewi Motik.

Menurutnya, membangun perekonomian dari sebuah bangsa lebih baik dimulai dari yang kecil, lalu didorong menjadi yang besar. Itu semua, lanjut Dewi Motik, sangat tergantung pada political will pemerintah. Dewi Motik mengambil contoh AS dan Jepang, mereka itu sangat berkepentingan membantu pengusaha kecil mereka, baik bantuan modal, perlindungan hukum dan berbagai insentif lainnya.

Dewi Motik mengaku bahwa Indonesia mempunyai kebijakan yang sama, Kredit Usaha Kecil (KUK) misalnya, namun hal itu, harus ada perbaikan dan konsistensinya. Terpilihnya Indonesia sebagai Pelaksana Konferensi Tingkat Tinggi negara-negara Non Blok, menurut Dewi Motik merupakan pertanda bahwa Indonesia termasuk negara aman di Asia Tenggara.

Katanya: itu adalah peluang, sebab banyak negara luar tidak begitu kenal Indonesia, boro-boro mau berinvestasi. Setiap investasi memerlukan perencanaan menyeluruh, selain faktor keamanan di atas, potensi sumber daya alam, pasar, tenaga kerja, dll juga perlu diperhatikan.

“Tenaga kerja atau buruh adalah merupakan kekuatan dari sebuah badan usaha atau industri,” ujar Dewi Motik.

Karena itu, lanjutnya, buruh harus diberi perhatian seperlunya, kalau tidak perusahaan tempat buruh itu bekerja bisa rusak programnya. Dewi Motik memang luar biasa sibuk.

Dalam kapasitasnya, sebagai Direktur Utama Restoran Manari – restoran theaterical pertama dan terbesar di Jakarta – dengan pengalaman jasa boga sebelumnya. Dewi Motik terpilih sebagai Ketua Umum IKABOGA periode 1990 – 1993.

Dalam Festival Istiqlal yang baru lalu, Dewi Motik termasuk salah seorang panitia perancang dan pelaksananya.

“Nafas Islam adalah nafas yang paling mendasar dalam memberi pengaruh pada pembangunan di Indonesia,” katanya memberi alasan keterlibatannya pada festival itu.

Kegiatan bernafaskan Islam memang menjadi bagian kegiatan yang digeluti Dewi Motik sehari-hari. Bahkan, ia juga termasuk pimpinan Yayasan Motik – sebuah Yayasan yang mengelola Sekolah Al Rahman (TK dan SD Islam di Kuningan).

Tujuan Yayasan ini: Syariah Islam di bidang pendidikan bagi bangsa dan negara. Dalam rangka meningkatkan pendidikan Remaja putri, sekaligus mengembangkan sektor pariwisata dan dunia usaha lainnya.

Dewi Motik sejak 1981, mendirikan Yayasan Putri Ayu. Yayasan yang dipimpinnya ini, telah menyelenggarakan 11 kali lomba putri ayu yang memperebutkan piala Ibu Tien Suharto. Sambil menjalankan semua itu, ekspansi dibidang usaha, sebagai praktisi wiraswasta, Dewi Motik terus melaju mencari peluang usaha, mencari uang dan memperluas lapangan kerja.

Tahun 1991, Dewi Motik bekerjasama dengan Departemen Transmigrasi mengelola Agro Bisnis di Sumatera Selatan, asal leluhurnya. Bisnis yang dibiayai oleh Bank Dunia ini, mengelola PIR dalam bentuk yang diperbaharui seluas 5000 Ha. Dewi Motik terus berlari, mendidik, mencari peluang bisnis, memberi peluang kerja bagi orang lain, buat pengabdiannya bagi ibu pertiwi.

Selamat buat BU DEWI, semoga menginspirasi ya 🙂

@ www.SaatnyaJadiPengusaha.Com

— Gabung Yuk! Dapatkan Update Ide, Inspirasi dan Peluang Usaha PLUS DOWNLOAD Aneka Ebook Bisnis di Saatnya Jadi Pengusaha! on Facebook —

Cukup dengan Klik Like di bawah ini sobb …


==============================================